Tag: Aceh

  • Kemitraan Petani di Tiga Provinsi: Model Bisnis PT BAS Menjaga Rantai Pasok Atsiri

    Kemitraan Petani di Tiga Provinsi: Model Bisnis PT BAS Menjaga Rantai Pasok Atsiri

    Alih-alih membeli lahan dalam skala besar, PT Bentang Alam Sumatera (PT BAS) memilih jalan yang lebih lambat tapi barangkali lebih tahan lama: membangun kapasitas petani binaan. Hubungan dengan petani, pendampingan lapangan, dan pengelolaan lahan jadi fondasi dari seluruh rantai pasok minyak atsiri perusahaan ini.

    Bagi eksportir yang bermarkas di Medan ini, pilihan tersebut membuat sumber bahan baku tidak menumpuk di satu perkebunan saja. Pasokan justru dibangun lewat jaringan lokal yang memahami betul kondisi lahan, musim, dan komoditas di wilayah masing-masing — petani binaan PT BAS tersebar di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat, dengan komoditas dan bentuk pendampingan yang disesuaikan dengan potensi tiap wilayah. Sejumlah lokasi model pengelolaan berbasis alami juga dikembangkan di Sumatera Utara dan Aceh.

    Dua posisi di dalam perusahaan memperlihatkan seriusnya perhatian pada pendekatan ini. Mustaqim, S.Hut., M.Si. menangani produksi dan kemitraan, sementara M. Irfany berperan sebagai spesialis agroforestri. Dengan begitu, kemitraan di PT BAS dipahami bukan sekadar transaksi jual-beli, melainkan proses membangun kapasitas masyarakat sekaligus menjaga lanskap pertanian tetap lestari.

    Prosesnya sendiri panjang. Dokumentasi kegiatan perusahaan memperlihatkan rangkaian pendampingan mulai dari pertemuan kelompok tani nilam, penimbangan batang dan daun nilam kering, sampai penyulingan memakai ketel sederhana di sekitar kebun. Minyak nilam dan serai wangi yang dihasilkan kemudian dikemas dalam jeriken dan dikirim ke fasilitas PT BAS untuk diproses lebih lanjut — setiap tahapan butuh koordinasi ketat agar bahan baku tetap memenuhi spesifikasi mutu sampai bergerak dari kebun ke pasar.

    Dari sisi luasan lahan, jaringan ini mencakup estimasi sekitar 80 hektare kebun nilam yang tersebar dari Blangkejeren hingga wilayah Sumatera Utara dan Sumatera Barat, ditambah sekitar 10 hektare kebun serai wangi di Blangkejeren. Di Besitang, Kabupaten Langkat, petani mengembangkan pola tanam yang lebih beragam lagi: ylang-ylang, serai dapur, serai wangi, nilam, kenanga, dan vanila tumbuh dalam satu kawasan yang sama. Pola tanam campuran seperti ini sejalan dengan pendekatan agroforestri, di mana satu bentang lahan bisa menghasilkan beberapa komoditas sekaligus.

    Pendekatan agroforestri semacam ini punya alasan yang lebih dari sekadar efisiensi lahan. Petani jadi punya lebih dari satu sumber pendapatan, sekaligus mengurangi ketergantungan pada satu komoditas saja. Bagi rantai pasok atsiri, kelestarian lahan dan keberlanjutan pendapatan petani sama-sama jadi penentu ketersediaan bahan baku dalam jangka panjang.

    Tapi model ini bukan tanpa tantangan. Jaringan petani kecil yang tersebar di wilayah pegunungan dan pedesaan butuh pendampingan yang konsisten, edukasi budi daya, pengawasan mutu, dan logistik yang terencana rapi. Dengan tim internal yang cuma tujuh orang, PT BAS sangat bergantung pada kepercayaan petani dan kolaborasi dengan pemangku kepentingan lokal untuk menjaga semua itu tetap berjalan.

    Bagi petani nilam di Blangkejeren, atau petani kenanga dan vanila di Besitang, kemitraan semacam ini membuka jalur menuju pasar yang sulit dijangkau sendirian. Rantai itu pada akhirnya menghubungkan kebun-kebun kecil di Sumatera dengan industri parfum, kosmetik, pangan, dan pembeli komoditas lainnya di pasar yang jauh lebih luas.

    Sumber: Disusun berdasarkan Profil PT Bentang Alam Sumatera 2026, termasuk dokumentasi kegiatan pendampingan petani binaan di Aceh dan Sumatera Utara.

  • Jejak Ekspor Minyak Nilam Sumut-Aceh ke London yang Dilepas Langsung Gubernur

    Jejak Ekspor Minyak Nilam Sumut-Aceh ke London yang Dilepas Langsung Gubernur

    Pada akhir November 2020, di tengah pandemi Covid-19 yang masih mencekam banyak sektor usaha, halaman Kantor Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Sumatera Utara di Jalan Putri Hijau, Medan, jadi saksi sebuah pengiriman yang tak biasa. Gubernur Sumatera Utara Edy Rahmayadi, Jumat (27/11/2020), melepas 600 kilogram minyak nilam menuju London, Inggris, hasil kerja PT Bentang Alam Sumatera (PT BAS), eksportir minyak atsiri yang bermarkas di Medan Selayang.

    Momen ini berlangsung bersamaan dengan penyerahan bantuan stimulus ekonomi produktif bagi pelaku UMKM dan usaha tani. Gubernur Edy tampak bersemangat. “Semoga kita lebih banyak lagi melepas ekspor seperti ini. Ini lambang kesejahteraan rakyat kita,” ujarnya, sembari berharap kegiatan ekspor semacam ini bisa terus berkembang karena membuka jalur tambahan bagi produk dan hasil usaha masyarakat daerah.

    Bagi PT BAS sendiri, pengiriman ke London bukan sekadar seremoni pelepasan barang. Ada proses panjang di baliknya: minyak yang berasal dari jaringan petani di pegunungan Sumatera harus melewati tahap pengumpulan, pengeringan, penyulingan, hingga pengemasan sebelum bisa memenuhi standar pembeli di Eropa.

    Panut Hadisiswoyo, yang saat itu menjabat Direktur Utama PT BAS, mengatakan minyak nilam asal Sumatera Utara dan Aceh termasuk yang berkualitas terbaik. “Minyak nilam merupakan bahan baku yang dipakai perusahaan kosmetik dan minyak wangi,” katanya, sembari menambahkan bahwa ekspor perusahaan saat itu baru menyasar pasar Inggris, dengan kapasitas produksi nilam sekitar 1,5 ton per tahun.

    Klaim soal kualitas nilam Aceh dan Sumatera Utara ini bukan cuma promosi sepihak. Beberapa tahun setelahnya, Ketua Umum Dewan Atsiri Indonesia Irdika Mansur menyampaikan hal serupa dalam forum internasional tentang nilam dan minyak atsiri di Banda Aceh. “Aceh merupakan sumber penghasil minyak nilam dengan kualitas terbaik di dunia,” katanya, sekaligus menyebut provinsi paling barat Indonesia itu sebagai wilayah yang sangat cocok untuk pengembangan budi daya nilam.

    Posisi Indonesia di peta nilam dunia memang tidak main-main. Data Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian yang banyak dikutip media menyebut Indonesia menguasai sekitar 95 persen pasar minyak nilam global, dengan volume ekspor diperkirakan 1.200 hingga 1.500 ton per tahun ke negara-negara seperti Swiss, Inggris, Singapura, Spanyol, dan Prancis. Nilai jual komoditas ini sangat bergantung pada kadar patchouli alcohol dan tingkat kemurniannya, sehingga kontrol mutu jadi urusan penting sejak bahan baku masih di tangan petani.

    Sebagian nilam dalam jaringan PT BAS berasal dari Blangkejeren, Gayo Lues, Aceh. Setelah dipanen dan dikeringkan, daun dan batang nilam disuling menjadi patchouli oil, lalu dikemas dalam jeriken atau drum sebelum diberangkatkan lewat jalur logistik ke negara tujuan. Dalam industri parfum, patchouli oil dikenal sebagai base note yang membantu mengikat dan memperpanjang karakter aroma — wangi woody, earthy, dan hangat yang jadi favorit rumah parfum, produsen kosmetik, sampai industri personal care.

    Ekspor ke London pada 2020 itu, pada akhirnya, memperlihatkan sebuah jalur yang menghubungkan kebun-kebun kecil di pegunungan Gayo Lues dengan pembeli di belahan dunia lain. Bagi PT BAS, pengalaman tersebut menjadi modal untuk terus mengembangkan jaringan nilam, sekaligus komoditas atsiri dan agribisnis lainnya.

    Sumber: Disusun berdasarkan pemberitaan Tobapos.co (28 November 2020), data Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian yang dikutip GoodNewsFromIndonesia.id, pernyataan Dewan Atsiri Indonesia yang dikutip ANTARA News, serta Profil PT Bentang Alam Sumatera 2026.