Alih-alih membeli lahan dalam skala besar, PT Bentang Alam Sumatera (PT BAS) memilih jalan yang lebih lambat tapi barangkali lebih tahan lama: membangun kapasitas petani binaan. Hubungan dengan petani, pendampingan lapangan, dan pengelolaan lahan jadi fondasi dari seluruh rantai pasok minyak atsiri perusahaan ini.
Bagi eksportir yang bermarkas di Medan ini, pilihan tersebut membuat sumber bahan baku tidak menumpuk di satu perkebunan saja. Pasokan justru dibangun lewat jaringan lokal yang memahami betul kondisi lahan, musim, dan komoditas di wilayah masing-masing — petani binaan PT BAS tersebar di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat, dengan komoditas dan bentuk pendampingan yang disesuaikan dengan potensi tiap wilayah. Sejumlah lokasi model pengelolaan berbasis alami juga dikembangkan di Sumatera Utara dan Aceh.
Dua posisi di dalam perusahaan memperlihatkan seriusnya perhatian pada pendekatan ini. Mustaqim, S.Hut., M.Si. menangani produksi dan kemitraan, sementara M. Irfany berperan sebagai spesialis agroforestri. Dengan begitu, kemitraan di PT BAS dipahami bukan sekadar transaksi jual-beli, melainkan proses membangun kapasitas masyarakat sekaligus menjaga lanskap pertanian tetap lestari.
Prosesnya sendiri panjang. Dokumentasi kegiatan perusahaan memperlihatkan rangkaian pendampingan mulai dari pertemuan kelompok tani nilam, penimbangan batang dan daun nilam kering, sampai penyulingan memakai ketel sederhana di sekitar kebun. Minyak nilam dan serai wangi yang dihasilkan kemudian dikemas dalam jeriken dan dikirim ke fasilitas PT BAS untuk diproses lebih lanjut — setiap tahapan butuh koordinasi ketat agar bahan baku tetap memenuhi spesifikasi mutu sampai bergerak dari kebun ke pasar.
Dari sisi luasan lahan, jaringan ini mencakup estimasi sekitar 80 hektare kebun nilam yang tersebar dari Blangkejeren hingga wilayah Sumatera Utara dan Sumatera Barat, ditambah sekitar 10 hektare kebun serai wangi di Blangkejeren. Di Besitang, Kabupaten Langkat, petani mengembangkan pola tanam yang lebih beragam lagi: ylang-ylang, serai dapur, serai wangi, nilam, kenanga, dan vanila tumbuh dalam satu kawasan yang sama. Pola tanam campuran seperti ini sejalan dengan pendekatan agroforestri, di mana satu bentang lahan bisa menghasilkan beberapa komoditas sekaligus.
Pendekatan agroforestri semacam ini punya alasan yang lebih dari sekadar efisiensi lahan. Petani jadi punya lebih dari satu sumber pendapatan, sekaligus mengurangi ketergantungan pada satu komoditas saja. Bagi rantai pasok atsiri, kelestarian lahan dan keberlanjutan pendapatan petani sama-sama jadi penentu ketersediaan bahan baku dalam jangka panjang.
Tapi model ini bukan tanpa tantangan. Jaringan petani kecil yang tersebar di wilayah pegunungan dan pedesaan butuh pendampingan yang konsisten, edukasi budi daya, pengawasan mutu, dan logistik yang terencana rapi. Dengan tim internal yang cuma tujuh orang, PT BAS sangat bergantung pada kepercayaan petani dan kolaborasi dengan pemangku kepentingan lokal untuk menjaga semua itu tetap berjalan.
Bagi petani nilam di Blangkejeren, atau petani kenanga dan vanila di Besitang, kemitraan semacam ini membuka jalur menuju pasar yang sulit dijangkau sendirian. Rantai itu pada akhirnya menghubungkan kebun-kebun kecil di Sumatera dengan industri parfum, kosmetik, pangan, dan pembeli komoditas lainnya di pasar yang jauh lebih luas.
Sumber: Disusun berdasarkan Profil PT Bentang Alam Sumatera 2026, termasuk dokumentasi kegiatan pendampingan petani binaan di Aceh dan Sumatera Utara.
