Dari kantor sederhana di kawasan Padang Bulan, Medan, tujuh orang menjalankan bisnis yang jangkauannya melintasi tiga provinsi dan menembus pasar ekspor minyak atsiri. PT Bentang Alam Sumatera (PT BAS) berdiri pada 14 Januari 2018, mengembangkan usaha berbasis komoditas aromatik yang dipakai industri parfum, kosmetik, personal care, hingga aromaterapi.
Nama PT BAS mungkin belum banyak dikenal publik Sumatera Utara. Tapi bagi petani nilam di Blangkejeren dan Gayo Lues, atau petani serai wangi dan kenanga di Besitang, perusahaan ini adalah mitra yang menampung hasil kebun mereka dan menyambungkannya dengan pembeli yang jauh lebih luas.
Cerita PT BAS berawal dari cita-cita membangun pasar atsiri sekaligus menjadi produsen komoditas agribisnis, terutama di Aceh dan Sumatera. Misinya sederhana saja di atas kertas: menghasilkan minyak atsiri secara produktif dan berkelanjutan. Namun di lapangan, misi itu berjalan beriringan dengan upaya meningkatkan kapasitas petani, kelompok tani, dan pemanfaatan sumber daya lokal, sambil membuka peluang pasar di dalam maupun luar negeri.
Struktur perusahaan ini kecil, tapi pembagian tugasnya jelas. Panut Hadisiswoyo adalah pendiri sekaligus CEO, Muhammad Jamil menjabat direktur, Mustaqim, S.Hut., M.Si. menangani produksi dan kemitraan, sementara M. Irfany berperan sebagai spesialis agroforestri. Susunan ini memperlihatkan bahwa kegiatan PT BAS tidak berhenti di meja dagang, tapi juga menyentuh langsung pengelolaan lanskap pertanian di tingkat hulu.
Di atas kertas perizinan, PT BAS justru tercatat sebagai “usaha mikro”. Legalitasnya terdaftar dalam sistem Perizinan Berusaha Berbasis Risiko melalui Nomor Induk Berusaha yang pertama kali terbit November 2018. Status usaha mikro ini terasa agak kontras dengan kenyataan bahwa perusahaan sudah menjalankan kegiatan ekspor dan mengantongi Angka Pengenal Impor yang melekat pada NIB-nya.
Cakupan izin usahanya pun ternyata lebih luas dari sekadar dagang minyak atsiri. Di dalamnya tercantum perkebunan tanaman aromatik dan penyegar, perdagangan hasil pertanian dan kehutanan, perdagangan besar kopi-teh-kakao, pengusahaan gaharu, kegiatan remediasi dan pengelolaan sampah, sampai penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan alam. Artinya, ruang untuk diversifikasi bisnis ke depan masih terbuka lebar.
Yang membuat model bisnis PT BAS agak berbeda adalah caranya membangun pasokan. Alih-alih menguasai lahan dalam skala besar, perusahaan ini bertumpu pada jaringan petani binaan di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Pengelolaan pasokan dilakukan secara terstruktur, dengan sejumlah lokasi model berbasis alami yang dikembangkan di Sumatera Utara dan Aceh. Dengan tim internal yang cuma tujuh orang, PT BAS bekerja bersama pemangku kepentingan lokal untuk membangun kapasitas masyarakat, terutama petani minyak atsiri, karena hubungan jangka panjang dan kepercayaan adalah modal utama bagi perusahaan kecil dengan jaringan pemasok yang tersebar seperti ini.
Dari jaringan itulah portofolio PT BAS terbentuk: nilam, kopi arabika, kopi robusta, minyak serai wangi, serai dapur, kenanga, vanila, dan kemenyan. Delapan komoditas ini mempertemukan minyak atsiri, kopi, rempah, dan hasil hutan bukan kayu dalam satu jaringan pasok yang sama.
Perjalanan PT BAS dari usaha mikro di Medan Selayang menuju rantai pasok ekspor menunjukkan bagaimana tim kecil bisa membangun jangkauan bisnis yang jauh lebih besar dari ukurannya sendiri, lewat kemitraan, pengelolaan sumber daya lokal, dan fokus pada komoditas bernilai tambah.
Sumber: Disusun berdasarkan Profil PT Bentang Alam Sumatera 2026 dan dokumen Perizinan Berusaha Berbasis Risiko (NIB) yang diterbitkan melalui sistem OSS.
